Tawaf Wada, Ritual Terakhir Jamaah Sebelum Meninggalkan Kota Mekah
- 1.1. KA’BAH
- 2.1. MASJIDIL HARAM
- 3.
Makna Tawaf Meninggalkan Kota Mekah bagi Jamaah
- 4.
Hukum Tawaf Wada Menurut Pandangan Ulama
- 5.
Suasana Tawaf Wada di Masjidil Haram
- 6.
Tata Cara Tawaf Sebelum Meninggalkan Mekah
- 7.
Waktu Ideal Melaksanakan Tawaf Wada
- 8.
Refleksi Jamaah Usai Tawaf Perpisahan
- 9.
Akhir Kata
Table of Contents
Tawaf meninggalkan Kota Mekah atau yang dikenal sebagai tawaf wada kembali menjadi perhatian publik setelah rangkaian ibadah haji memasuki fase akhir. Ritual ini dijalani jamaah sebelum benar-benar meninggalkan Tanah Suci. Bagi banyak jamaah, momen ini terasa berat namun penuh makna.
Kamu yang mengikuti perkembangan ibadah haji mungkin melihat suasana di Masjidil Haram beberapa hari terakhir tampak lebih tenang. Arus jamaah tidak lagi sepadat puncak haji. Namun justru di situlah letak kekhusyukan tawaf perpisahan terasa lebih dalam.
Ritual mengelilingi KA’BAH sebanyak tujuh putaran ini bukan sekadar penutup rangkaian manasik. Tawaf ini menjadi simbol pamitan terakhir seorang hamba kepada Baitullah. Sebuah pengalaman spiritual yang sulit dilupakan.
Petugas haji dan pembimbing ibadah terus mengingatkan jamaah agar memahami makna tawaf wada. Bukan hanya sebagai kewajiban fikih. Namun juga sebagai refleksi perjalanan iman selama berada di Mekah.
Dalam laporan terbaru dari Tanah Suci, ribuan jamaah dari berbagai negara terlihat melaksanakan tawaf wada dengan tertib. Mereka datang silih berganti. Doa pun mengalir tanpa henti di sekitar MASJIDIL HARAM.
Makna Tawaf Meninggalkan Kota Mekah bagi Jamaah
Tawaf wada memiliki arti mendalam sebagai salam perpisahan kepada KA’BAH. Kamu diajak menyadari bahwa perjumpaan dengan Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik. Namun juga perjalanan batin yang menyentuh sisi terdalam keimanan.
Banyak jamaah merasakan kesedihan saat melangkahkan kaki menjauhi Masjidil Haram. Air mata sering kali jatuh tanpa disadari. Perasaan ini muncul karena kuatnya ikatan spiritual yang terbangun selama ibadah haji.
Pembimbing ibadah menyebut tawaf wada sebagai momentum mengikat janji dengan Allah. Janji untuk menjaga nilai haji dalam kehidupan sehari-hari. Janji untuk kembali suatu hari nanti.
Hukum Tawaf Wada Menurut Pandangan Ulama
Dalam pandangan mayoritas ulama, tawaf wada hukumnya wajib bagi jamaah haji. Kewajiban ini berlaku bagi mereka yang hendak meninggalkan Kota Mekah. Kecuali bagi jamaah yang memiliki uzur syar’i.
Dasar hukum tawaf wada bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW. Hadis tersebut menegaskan agar amalan terakhir jamaah adalah tawaf di Baitullah. Ini menjadi landasan kuat dalam praktik ibadah haji.
Namun syariat Islam tetap memberi kemudahan. Perempuan yang sedang haid dan jamaah dengan kondisi tertentu dibebaskan dari kewajiban ini. Tanpa dikenakan denda atau konsekuensi ibadah.
Suasana Tawaf Wada di Masjidil Haram
Beberapa hari terakhir, suasana MASJIDIL HARAM terasa lebih lengang namun khidmat. Kamu bisa melihat jamaah berjalan perlahan. Sebagian berhenti sejenak untuk berdoa.
Petugas keamanan Arab Saudi mengatur alur pergerakan jamaah dengan rapi. Hal ini dilakukan agar tawaf wada berjalan lancar. Tanpa mengganggu jamaah umrah yang masih berdatangan.
Suasana malam menjadi waktu favorit bagi banyak jamaah. Udara terasa lebih sejuk. Kekhusyukan pun terasa lebih dalam.
Tata Cara Tawaf Sebelum Meninggalkan Mekah
Tata cara tawaf wada pada dasarnya sama dengan tawaf lainnya. Namun niat dan waktunya yang membedakan. Tawaf ini dilakukan tepat sebelum meninggalkan Kota Mekah.
- Kamu memastikan dalam keadaan suci dan berwudu.
- Niat tawaf wada di dalam hati.
- Memulai tawaf dari HAJAR ASWAD.
- Mengelilingi KA’BAH sebanyak tujuh putaran.
- Membaca doa sesuai kemampuan dan kekhusyukan.
Setelah selesai, jamaah biasanya melaksanakan salat sunnah dua rakaat. Doa penutup menjadi momen paling emosional. Karena setelah itu, langkah kaki mulai menjauh dari Masjidil Haram.
Waktu Ideal Melaksanakan Tawaf Wada
Pembimbing haji menyarankan tawaf wada dilakukan mendekati waktu kepulangan. Namun tidak terlalu mepet dengan jadwal keberangkatan. Agar jamaah tetap tenang dan tidak terburu-buru.
Idealnya, tawaf dilakukan beberapa jam sebelum meninggalkan Mekah. Ini memberi waktu cukup untuk persiapan perjalanan. Sekaligus menjaga kekhusyukan ibadah.
Jika setelah tawaf jamaah masih berbelanja atau menetap lama, maka tawaf perlu diulang. Karena tawaf wada harus menjadi amalan terakhir. Ini yang sering diingatkan oleh pembimbing ibadah.
Refleksi Jamaah Usai Tawaf Perpisahan
Banyak jamaah mengaku merasakan perubahan batin setelah tawaf wada. Perasaan lebih tenang dan pasrah muncul. Seolah beban hidup ikut dilepaskan.
Tawaf perpisahan menjadi titik refleksi diri. Kamu diajak mengingat kembali niat awal berhaji. Sekaligus menata komitmen setelah kembali ke tanah air.
Bagi sebagian jamaah, tawaf ini menjadi doa panjang agar diberi kesempatan kembali. Bukan hanya secara fisik. Namun juga secara spiritual.
Akhir Kata
Tawaf meninggalkan Kota Mekah bukan sekadar ritual penutup ibadah haji. Ia adalah simbol perpisahan yang sarat makna. Sekaligus pengikat janji antara hamba dan Tuhannya. Melalui tawaf wada, Kamu diajak menyadari bahwa perjalanan haji tidak berhenti di Tanah Suci. Nilai-nilainya harus terus hidup dalam keseharian. Menjadi bekal iman setelah kembali ke tengah masyarakat. Momen pamitan di hadapan KA’BAH akan selalu membekas. Menjadi kenangan spiritual yang tak mudah pudar. Sebuah akhir yang sekaligus menjadi awal perjalanan baru. (MT)
